Home AD

Wednesday, February 01, 2017

LEMBU GAMA, SAPI HARAPAN MASA DEPAN

Kemandirian pangan terus diupayakan pemerintah termasuk dalam hal swasembada daging. Untuk melihat lebih dekat implementasi hasil riset dan teknologi pada sektor peternakan berupa pengembangan dan pembiakan sapi unggul baru hasil kerja sama Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada dengan PT. Widodo Makmur Perkasa dan University of Liege Belgia, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir meninjau peternakan sapi PT. Widodo Makmur Perkasa di Desa Jambakan, Klaten, Jawa Tengah. Pola hulu hilir yang sudah dijalankan UGM saat ini sangat didukung Kemenristekdikti untuk dapat dikembangkan menjadi pola pemberdayaan baik untuk perkotaan maupun pedesaan agar menggerakan roda ekonomi.
Peternakan sapi kerjasama UGM dan industri tersebut memang ditujukan dalam rangka membangun sebuah Center of Exelence. Dekan Fakultas Peternakan UGM, Ali Agus menyatakan bahwa saat ini sudah lahir 12 ekor generasi pertama persilangan Belgian Blue Cattle dengan sapi Brahman. Kemudian sapi generasi pertama keturunan Belgian Blue ini akan dikawinkan dengan generasi pertama keturunan Brahman dengan pejantan Sapi Wagyu. Hasil ketiga darah keturuan Brahman, Wagyu dan Belgian Blue inilah yang nanti akan dinamakan Lembu Gama, sebagai breed composit ke tiga darah sapi unggul tersebut. Dari keunggulan breed composit ini diharapkan akan lahir sapi-sapi yang adaptif dan produktif pada kondisi iklim tropik basah dari darah tetuanya yaitu sapi Brahman, kemudian juga memiliki daging yang empuk/tender meat (tetua Wagyu) dan ototnya doble (tetua Belgian Blue).
Sapi Gama dengan ciri adaptif-produktif penghasil daging yang empuk dan melimpah inilah harapan kita sehingga akan membantu mencukupi kebutuhan daging sapi di masa yang akan datang. Secara ringkas, kami berharap Lembu Gama akan menjadi produsen daging sapi prime quality (kualitas prima), ungkap Ali Agus. Rektor Universitas Gadjah Mada, Dwikorita Karnawati, menyatakan untuk mendorong kemandirian secara pesat tidak cukup dibutuhkan model kerjasama triple helix saja melainkan harus penta helix. Artinya, kerjasama dalam mewujudkan swasembada daging ini butuh unsur akademisi, pemerintah, industri, masyarakat dan filantropi. "Kedepan, kerjasama ini dapat melahirkan produksi massal, menguatkan jejaring dengan yang lain," ujarnya. Dwikorita juga mengemukakan pihaknya tengah mengembangkan teknologi digital untuk mengurangi kesenjangan kota dan desa di bidang ilmu pengetahuan terutama soal pertanian dan peternakan. Mentristekdikti merasa bangga pada inovasi yang dilakukan UGM ini. Apabila ingin mewujudkan swasembada daging di tanah air, maka kebutuhan sapi yang harus dipenuhi tiap tahunnya meningkat sebesar 3 juta ekor/tahun. "Maka breeding harus kita rencanakan dengan baik. Oleh karena itu melalui Dirjen Risbang kita nanti bisa melakukan konsorsium pengembangan sapi Indonesia," imbuhnya. Kementerian Ristekdikti akan terus mendukung transfer teknologi tepat guna dari kampus yang menyentuh kehidupan ekonomi pedesaan, termasuk dengan menjadikan bisnis hulu-hilir peternakan, yang mampu menjadi total solution menuju penguatan ekonomi masyarakat desa.

Dunia usaha juga harus didorong guna memanfaatkan inovasi tersebut untuk mengembangkan bisnis yang berbasis teknologi. Selain itu, Menristekdikti juga berkeinginan mendorong sarjana masuk desa untuk membimbing masyarakat desa dan mengedukasi teknologi. Usulan program tersebut akan diajukan bekerjasama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Pemerintah Kabupaten Klaten menyatakan pihaknya siap berupaya membantu pemerintah dalam menjaga kecukupan stok daging sapi dan mengurangi impor. "Kami harap ke depan Klaten dapat menjadi sentra percontohan daging sapi," imbuhnya.

No comments:

Post a Comment