Home AD

Monday, April 27, 2015

Akumulasi Primitif dan Perkembangan Kapital



Tiga proses seiringan, yaitu penghakmilikan tanah menurut konsepsi kepemilikan pribadi borjuasi Eropa, penciptaan golongan sosial baru para pekerja upahan, dan akumulasi kekayaan ke tangan segelintir elite lewat gerakan enclosure ditambah dengan pengaturan upah pekerja murah di sektor-sektor penopang kapitalisasi yang dilindungi peraturan-peraturan resmi pemerintah pada masa awal kapitalisme modern ini, disebut Karl Marx sebagai “ursprΓΌnglische akkumulation atau akumulasi primitif (Marx, 1990: 873).
Sepanjang bagian kedelapan Das Kapital jilid pertama Marx mengajukan teori akumulasi primitif. Teori akumulasi primitifnya Marx merupakan  tanggapan  terhadap teori akumulasi primitifnya Sir Adam Smith dan ekonom borjuis. Di dalam teorinya Adam Smith dinyatakan bahwa berlangsungnya produksi kekayaan modern secara logis haruslah didahului oleh adanya timbunan kekayaan sebelumnya. Produksi kemakmuran modern yang ditopang pembagian kerja sosial antara pemilik tanah, pekerja, dan kapitalis, mestilah diawali suatu keadaan tertentu di masa lalu yang di dalamnya telah terjadi pengumpulan  kekayaan  secara tidak merata di antara anggota masyarakat. Kekayaan terkumpul ini yang kemudian memunculkan pembagian kerja sosial dan, akhirnya, produksi kemakmuran modern (Smith, 1976 : 277-278). Sir Smith menyebutnya pengumpulan kekayaan ini sebagai previous accumulation. Jadi, dalam teorinya Sir Smith, pembagian kerja sosial atau dalam peristilahan Marxis keterpilahan masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial, ada setelah munculnya timbunan kekayaan di tangan segolongan orang.
Pertanyaannya, dari mana timbunan kekayaan ini berasal? Tidak seperti teolog yang merujuk kepada  Tuhan  sebagai  asal  usul, Sir Smith, layaknya kaum borjuis terdidik, mencari akarnya di dalam kehidupan manusia itu sendiri. Tetapi mirip dengan teolog Abad Pertengahan, Sir Smith percaya bahwa pada dasarnya ada dua jenis manusia dengan kodrat alamiah yang berbeda. Perbedaan kodrat inilah  yang  menjadi  dasar munculnya perbedaan di antara mereka sekarang dalam kekayaan yang berhasil dikumpulkan. Dengan teori ini Adam Smith seolah-olah hendak  meyakinkan  kaumnya bahwa mereka tidak perlu merasa bersalah dengan adanya ketimpangan sosial. Kelas-kelas sosial tercipta dari suatu  proses  alami yang tidak bisa ditembus campur tangan manusia perorangan.
Setiap masyarakat di delapan penjuru mata angin selalu punya cerita, entah dalam bentuk mitos ataupun legenda, yang memberi penjelasan tentang keterpilahan masyarakat ke dalam golongan- golongan yang berbeda peringkat sosialnya. Di dalam masyarakat prakapitalis selalu  ada  mitos  atau legenda yang menyebutkan bahwa para pemimpin di antara mereka merupakan keturunan dewata. Mereka ada orang-orang terpilih yang menjadi perantara kerja Dewa di bumi. Dengan mandat dewata golongan elite masyarakat berhak mengatur banyak hal dari kehidupan rakyatnya; berhak mendapatkan penghormatan, berhak mendapat sebagian hasil kerja rakyat, berhak mengerahkan tenaga kerja rakyat. Nah, di dalam masyarakat kapitalis, mitos dan legenda kuno ini digantikan oleh berbagai teori sosial yang menyokong kedudukan golongan elite dalam status quo. Di dalam sistem mitologi borjuis, misalnya, asal-usul pembagian kerja di dalam masyarakat diyakini bermula dari dalam masa lalu yang di dalamnya ada sekelompok orang “yang rajin, hemat, dan gemar menabung dan sekelompok orangyang malas, boros, suka hambur-hambur. Golongan yang sekarang menjadi elite ekonomi merupakan keturunan inividu-individu rajin, hemat, dan gemar menabung kekayaannya. Di pihak lain mereka yang sekarang harus menjual tenaga kerjanya kepada golongan elite adalah keturunan  dari  individu-individu yang malas, boros, dan menghambur-hambur kekayaan. Hingga sekarang, gagasan borjuis tentang terciptanya kelas-kelas di dalam masyarakat kapitalis masih menjadi dasar argumen pendukung kapitalisme. Inilah gagasan yang ditantang Marx melalui teori akumulasi primitifnya.
Marx memulai kritiknya terhadap teori akumulasi primitifnya Smith dengan memberi judul dari bagian delapan jilid pertama Das Kapitalnya dengan so called primitive accumulation. Di dalam bagian tersebut Marx bicara soal akumulasi primitif dalam tanda kutipseperti yang saat itu diimani oleh   kaum   borjuis dan parasit-parasit intelektualnya. Lalu Marx menyindir lebih lanjut dengan pernyataan bahwa sebetulnya teori akumulasi primitif itu memainkan peran yang sama di dalam ekonomi politik seperti halnya dosa awal dalam teologi(Marx, 1990: 873). Perumpamaan yang dipilih Marx tepat.  Baik  doktrin  dosa asal maupun teori akumulasi primitif dalam pandangan Smith dan ekonom borjuis sama-sama mengaburkan asal-usul ketidakberuntungan orang-orang yang menderita ke dalam kabut ahistoris di dalam masa lalu yang nun jauh di entah kapan.
Doktrin dosa asal menjelaskan bahwa penderitaan manusia sekarang ini merupakan akibat dari dosa asal yang dilakukan manusia pertama di sorga. Teori akumulasi primitifnya Smith menjelaskan bahwa adanya pembagian kerja antara mereka yang menguasai sarana produksi dan mereka yang harus menjual tenaga kerjanya kepada pemilik sarana produksi ini adalah karena di dalam masa awal ada orang-orang yang rajin, hemat, dan kreatif di satu sisi dan orang-orang malas, boros, dan bodoh di sisi lain. Kekayaan yang dimiliki golongan elite sekarang merupakan imbalan atas karma baik leluhur mereka dahulu. Begitu pula kemiskinan dan derita golongan pekerja merupakan akibat dari dosa asal nenek moyang mereka yang malas dan boros.
Teori akumulasi primitif Marx diawali dengan gagasan bahwa kapital dan tertimbunnya kekayaan kelas pemilik sarana produksi merupakan hasil perampasan terhadap kekayaan sosial hasil kerja golongan lain. Sementara Adam Smith dan ekonom borjuis percaya bahwa keberadaan kelas-kelas sosial di dalam masyarakat kapitalis tercipta secara sukarela dan damai di bawah pengawasan pertukaran pasar yang adil, Marx tegas mengaitkan terbentuknya pembagi- an kerja dalam masyarakat kapitalis dengan akumulasi primitif yang penuh pemaksaan.
Adam Smith dan ekonom borjuis setelahnya mendasarkan teori akumulasi primitifnya dari penalaran deduktif dengan mengimani filsafatnya John Locke tentang keadaan asali manusia serta asal-usul kepemilikan sebagai premis pertama. Sementara itu, berseberangan dengan Smith, bangunan teori akumulasi primitifnya Marx didirikan di atas hasil penyelidikan historis. Sepanjang bagian delapan Das Kapital jilid pertama (Bab 26-33) Marx mengajukan bukti-bukti sejarah tentang perampasan tanah, pengkaplingan, pengusiran kaum tani, kebijakan upah murah, dan sebagainya, yang mendahului revolusi kapitalis. Di situ Marx juga menggambarkan berabad perampokan para penjajah Eropa terhadap rakyat dan kekayaan bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika sebagai bagian integral dari akumulasi primitif. Semua kekejaman historis ini mendahului muncul dan berkembangnya pembagian kerja sosial antara kapitalis dan proletariat, dominannya hubungan produksi kapitalis, dan akumulasi kekayaan beserta kekuasaan politiknya di tangan segelintir elite ekonomi masyarakat.
Pada tingkatan teoritis, teori akumulasi primitif Marx bertujuan menghancurkan teori akumulasi primitifnya Sir Adam Smith yang ahistoris. Pada tingkatan etis Marx hendak menghapuskan keimanan di kalangan borjuasi bahwa keterpilahan sosial yang timpang merupakan hasil dari proses pasar yang adil. Di dalam teori akumulasi primitifnya, Marx juga mengarahkan telaah historisnya ke munculnya pranata pasar kapitalis untuk menolak teori pasarnya Smith. Smith berpandangan bahwa pasar merupakan mekanisme yang bekerja dengan adil karena tangan gaib pasar merupakan pemandu cerdas bagi individu-individu menuju kemakmuran niscaya yang dalam jangka panjang akan membawa ke kemakmuran bangsa. Marx menunjukkan bahwa sebagai pranata pokok masyarakat kapitalis, pasar kapitalis tidaklah muncul dan bekerja secara damai dan kesukarelaan, tetapi justru sebaliknya, penuh dengan paksaan dan penindasan.
Di dalam analisis sejarahnya Marx, munculnya pasar tanah dan tenaga kerja, misalnya, dikatakan merupakan hasil dari proses yang di dalamnya: lahan-lahan pertanian diberikan begitu saja atau dijual dengan harga yang konyol atau dikuasai sebagai lahan pertanian swasta melalui penyerobotan langsung(Marx, 1990: 884). Kerjasama para penguasa politik dengan elite-elite borjuis telah memungkinkan kaum elite menganugrahi diri mereka lahan- lahan garapan penduduk menjadi milik pribadi [mereka] yang ujung-ujungnya ialah meningkatkan pasokan proletariat merdeka sekaligus tanpa hak yang tercerabut dari lahan-lahan mereka(Marx, 1990 : 885) sebagai sumberdaya utana yang eksploitasi di dalam pabrik-pabrik kapitalis.
Keberadaan orang-orang tanpa sarana produksi dan jaminan sarana hidup ini penting artinya dalam konsolidasi corak produksi kapitalis. Juga penting bagi langgengnya kekuasaan elite ekonomi terhadap sebagian besar penduduk di manapun kapitalisme menginjakkan kakinya. Pada tahap konsolidasi, kelimpahan  tenaga kerja murah diperkuat lagi dengan dikeluarkannya berbagai kebijak- sanaan yang mengatur upah yang cocok buat akumulasi kekayaan golongan elite. Penciptaan kondisi dan penerbitan undang-undang yang mengatur panjangnya waktu kerja dan  rendahnya tingkat upah rata-rata yang memperkuat ketergantungan sebagian besar orang kepada sistem kerja upahan, menurut Marx adalah salah satu aspek mendasar dari apa yang disebut  akumulasi  primitif”  (Marx, 1990: 900).
Akumulasi primitif adalah pendahulu historis, pengiring setia, dan salah satu batu penjuru bangunan masyarakat kapitalis. Ia harus  dibedakan, mesti  tidak  bisa dipisahkan, dari akumulasi kapital (yang akan diulas lebih lanjut dalam Bab 4 dan 5). Yang terakhir ini muncul  sebagai  hasil  dari eksploitasi di dalam sektor-sektor kapitalis dan tempat-tempat penciptaan nilai-lebih. Namun, akumulasi primitif tidak hanya terkait dengan masa lalu kelam kapitalis. Ia bukanlah proses yang sudah selesai, tetapi termasuk cara yang terus digunakan kapitalis modern untuk menciptakan proletariat di mana pun kapitalis ingin mengeruk laba. Rosa Luxemburg, seorang ekonom marxis kelahiran Polandia, dalam penyelidikan teoritis terhadap akumulasi kapital menegaskan bahwa akumulasi kapital sebagai suatu proses historis aktual secara keseluruhan memiliki dua aspek yang berhubungan erat satu sama lain. Pertama berkenaan dengan pasar komoditi dan tempat nilai- lebih  diproduksi pabrik, tambang, lahan pertanian. Dalam aspek ini akumulasi semurni-murninya adalah proses ekonomi dengan tahap terpentingnya berupa transaksi antara kapitalis dan pekerja upahan. Aspek lain akumulasi kapital  berkenaan dengan hubungan antara kapitalisme dan corak-corak produksi non-kapitalis yang mulai tampak di panggung internasional. Cara akumulasi di sini ialah dengan kebijaksanaan kolonial, suatu sistem hutang internasional kebijaksanaan yang terkait dengan bunga dan perang. Paksaan, penipuan, penindasan, perampasan secara terbuka ditampilkan tanpa ada  upaya  menutup- tutupi (Luxemburg, 2003: 432).
Di negeri-negeri bekas jajahan dengan sumberdaya alam dan angkatan kerja melimpah, praktik akumulasi primitif berlaku seiring sejalan dengan akumulasi kapital di pusat-pusat industrinya. Tanah- tanah yang sebelumnya merupakan lahan hidup kaum tani atau suku-suku pedalaman dirampas "secara legal untuk dijadikan lahan perkebunan komersial, pertambangan, atau pusat-pusat industri. Terutama di Jawa, tidak sedikit lahan-lahan pertanian skala kecil yang dialihfungsikan menjadi pusat- pusat industri atau dam-dam pembangkit listrik demi pembangunan sepanjang berkuasanya Orde Baru dengan biaya murah. Mereka tinggal pindahkan penduduknya ke pulau-pulau sepi penduduk melalui program transmigrasi. Sekiranya penduduk menolak, tuduhan komunis sudah siap dilekatkan. Dengan cap “komunis di kening identitas sosial mereka, pembunuhan, pengusiran, dan perampasan tanah-tanah mereka menjadi sah di mata publik. Dari tanah-tanah yang dicerabut penguasaannya, berbondong bondonglah kaum miskin perdesaan menuju perkotaan untuk dieksploitasi di pabrik-pabrik kapitalis modern.
Hingga sekarang, di Dunia Ketiga, seiring dengan proses ekspansi kapitalisme, petani-petani kecil, buruh-buruh tani, para pengrajin desa, atau setidaknya anak-anak mereka, generasi kedua atau ketiga dari komuniti suku-suku pedalaman yang begitu beruntung di tanah tempat hidup mereka terkandung sumberdaya alam yang penting bagi pasar kapitalis, diubah keadaan menjadi proletariat. Mereka memenuhi kelaparan kapital akan tenaga kerja upahan, komodifikasi,  dan  kapitalisasi semua sektor, dan proses ini belum akan berakhir Senin depan. Tersedianya pasokan proletariat, yaitu orang-orang yang bebas dari ikatan dengan tatanan tradisional, termasuk bebas dari sarana produksinya, merupakan prasyarat material ekspansi kuantitatif kapitalisme (Weber 2001: 25).
Proletarisasi merupakan prasyarat beroperasinya kapital. Tanpa proletariat tidak akan ada kapital, dan tanpa kapital tidak akan ada kapitalis. Proses penciptaan hubungan sosial produksi kapitalis tidak hanya akan membawa slip gaji ke dalam barisan benda kultural kelas pekerja modern, tetapi sering kali juga menorehkan luka darah pada  korban-korban di sepanjang proses penciptaannya seperti dikatakan oleh Marx secara puitis, kapital hadir mengucur deras dari kepala hingga kaki, dari setiap lubang pori-pori, dengan darah dan kotoran (Marx, 1990: 926). (Dede Mulyanto)