Home AD

Tuesday, September 06, 2016

PERKEMBANGAN FILSAFAT DAN MANFAATNYA

Pada tulisan kali ini akan dijelaskan hubungan filsafat dan manusia, bahwa kehidupan manusia dipenuhi dengan berbagai macam permasalahan, baik yang umum dan harus  segera di atasi karena kesibukan manusia dalam pekerjaan sehari-hari maupun yang bersifat azasi dalam diri manusia terkait dengan hakikat dirinya sendiri dan proses interaksi dirinya dengan Tuhan dan alam sekitarnya. Dari beranekaragam permasalahan itu, yang terbesar mendasar dihadapi oleh manusia adalah permasalahan tentang dirinya sendiri. Pertanyaan yang fundamental tentang manusia ialah
  • Bagaimana manusia itu
  • Apa sebabnya demikian
  • Apa itu sesungguhnya manusia
  • Dari mana awalnya dan 
  • Ke mana akhirnya

Dari kelima pertanyaan di atas, dua yang depan dijawab oleh ilmu, sedangkan tiga yang terakhir dijawab dan dibahas oleh filsafat. Kemudian pertanyaan mengenai diri manusia itu sendiri mengantarkan kepada bias kontemplasi dalam pertanyaan tentang hakikat alam semesta.  Maka muncul pertanyaan sebagai berikut :
  • Kapankah alam semesta terjadi
  • Bagaimana terjadinya alam semesta ini
  • Dari sumber apa alam semesta ini memperoleh hidupnya
  • Dan apakah akhir yang dituju dalam gerakan ini

Selanjutnya, pertanyaan tentang alam semesta ini membawa kepada pemikiran tentang Sang Pencipta manusia dan alam semesta, misalnya :
  • Apa Ia suatu pribadi atau bukan pribadi
  • Apa Ia suatu pribadi, apakah hakikat dan konstitusi sang pribadi itu
  • Apakah Ia satu pribadi seperti kita secara fisik
  • Apakah Ia sesuatu proses kerusakan dan kematian atau apakah Ia itu kekal
  • Apakah Ia itu satu, dua, tiga,, ataukah lebih dari itu

Pertanyaan tentang dirinya sendiri, alam semesta dan Tuhan akan hadir saat manusia dibebani oleh suatu permasalahan rumit dan memerlukan pemecahan, yang tentunya agar tercapai kefahaman benar yang diharapkan bisa menjawab dan memberi permufakatan internal atas pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya, sehingga filsafat mampu mendorong manusia untuk :
  • berusaha mengetahui apa yang telah dketahui dan apa yang belum diketahui
  • berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahuinya dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini 
  • mengoreksi diri, berani melihat sejauh mana kebenaran yang dicari telah dijangkaunya
  • tidak apatis terhadap lingkungan dan nilai yang berkembang di tengah masyarakatnya
  • selalu memberikan makna dalam setiap amal perbuatannya


Meskipun jawaban dari para filsuf tidak terjamin sempurna mampu menjadi jawaban atas pertanyaan yang sama oleh manusia lain, tetapi filsuf sangat berguna dalam mengantarkan pada pemecahan permasalahan hidup manusia. 
Filsafat lahir dalam diri setiap manusia yang memandang kehidupannya, sehingga wujud filsafat itu selalu ada, hidup dan memberi kehidupan bagi manusia. Dalam tiap jawaban terhadap sebuah pertanyaan, bagi filsuf akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru seterusnya yang tidak akan berhenti sampai kapanpun jua. Selain itu, pembahasan untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari, manusia selalu dekat dengan pemikiran kaum filsuf, di mana keterbukaan berpikir dan prosesnya akan selalu terjadi seiring wujudnya manusia-manusia baru yang lahir pada suatu masa tertentu dengan permasalahan tertentu pula. Filsafat tidak berhenti meskipun dari kajian ilmu tertentu sebuah permasalahan dianggap sudah selesai dan terjawab melalui karya seseorang dengan penemuannya. Seorang filsuf selalu bersifat terbuka, profesional dalam bidangnya serta harus cerdas menghadapi masyarakat, mampu melihat segala situasi secara tuntas dan penuh kebijaksanaan. 
Dikarenakan filsafat ini membahas sesuatu secara mendasar dan radikal, maka filsafat ini menjadi sumber dari segala pemikiran dalam bidang-bidang tertentu yang pada suatu waktu mengemuka adanya filsafat bahasa, filsafat sejarah, filsafat pendidikan dan filsafat kebudayaan dan lain-lain. Masing-masing konsentrasi pembahasan filsafat membentuk sebuah atau beberapa cabang ilmu yang dapat diterapkan dalam hidup manusia, baik untuk menyelesaikan permasalahan hidup sehari-harinya, maupun untuk mengembangkan proses perjalanan keilmuan baru. 
Sebagai contoh, filsafat bahasa memperhatikan tentang bahasa dan untuk mewujudkan pernyataan-pernyataan yang berbentuk logis, ringkas dan terbaik yang sesuai dengan fakta dan arti yang disajikan.
Pada bab ini juga dijabarkan tentang sejarah perkembangan filsafat yang merupakan studi kritis tentang pembentukan dan perkembangan filsafat dari sejak mula sampai sekarang, dan melintasi masa depan. 
Bentuk filsafat yang “tidak memiliki bentuk” ini menjadikan sejarah tentang filsafat merupakan filsafat itu sendiri, bukan dalam arti pengetahuan yang sudah ada, tetapi lebih dalam arti pengetahuan itu sendiri dalam proses menjadi. Dari pengertian ini, bermula perkembangan para ilmuwan sejarah filsafat lebih mengacu kepada perubahan dan perkembangan-perkembangan temporal filsafat daripada isi dan makna filsafat. 
Filsafat merupakan percaturan dan pergulatan manusia dengan masa-masa sebuah sejarah hidup, baik  manusia maupun proses alam semesta ini, maka sejarah filsafat “tidak memikiki sejarah” dalam arti selalu berkembang sesuai zaman, dan tidak ada kesempurnaan jawaban dari pertanyaan filsafat. “Jawaban yang merupakan pertanyaan” filsafat pada masa tertentu bukan sebuah bentuk kebenaran dan kepastian, akan dijadikan sebagai landasan berpikir kemudian hari. Selama masih ada manusia di alam semesta ini, selama itu sejarah filsafat bersemi dan berkembang tanpa henti. 
Dalam diskusi kritis tentang sejarah filsafat, tidak diperbolehkan membahas apa yang diungkap manusia pada masa lalu, tetapi kebenaran apa yang sudah diungkap, untuk dijadikan sebagai topik pembahasan berikutnya. 
  • Perkembangan filsafat tidak memiliki masa lalu, masa sekarang dan masa depan, tetapi memiliki fase-fase perkembangan yang dapat dipetakan berdasarkan belahan masa tertentu, yaitu :
  • Filsafat Klasik atau Kuno, berkembang mulai dari permulaan antara orang-orang Yunani di pantai Ionia di Asia kecil sampai pada perwujudan akhirnya dalam Neo-platonisme, termasuk semua bentuk pemikiran India dan China yang memiliki unsur-unsur berpikir filosofis di bawah suatu pandangan moralistik atau religius.
  • Zaman Pra-Sokrates, berkembang sebelum masa Sokrates. Ditandai oleh upaya menemukan prinsip (arche) yang menjadi dasar dari segala sesuatu yang ada. Meraba prinsip tersebut, Thales (624-562 SM) menyebut air sebagai azas segala yang ada, Anaximander menyebut yang tak terbatas, Anaximenes menyebut udara, Heraklitus menyebut api, Pythagoras dan para pengikutnya membuat studi tentang alam dalam kaitan dengan angka.
  • Zaman para Sofis, berkembang pada masa Protagoras (480-410 SM) sebagai pendiri. Tampil juga Sokrates, Plato, Aristoteles dan semua pengikut mereka dikenal sebagai neoplatonisme, di mana pada saat itu pikiran manusia sudah mulai terarah pada manusia, relasi antar manusia dan relasi manusia dengan alam dan manusia lain.
  • Abad Pertengahan dan Skolastisisme, dimulai pada sekitar 500 M sampai 1500 M. Pada masa Agustinus (354-430 M) sampai tahun 1000 M dikenal dalam sejarah filsafat sebagai periode transisi. Kemudian pada abad 11 ditandai tumbuhnya pendidikan dan perguruan-perguruan khusus. Pada abad 12 ditandai oleh tumbuhnya universitas-universitas. Puncak perkembangan sejarah filsafat abad pertengahan bersinar pada abad 13, ditandai oleh karya-karya besar para filsuf seperti Roger Bacon (1214-1293 M), Bonaventura (1217-1274 M), Albertus Agung (1206-1280 M), dan Thomas Aquinas (1224-1274 M). Zaman ini juga disebut Skolastisisme puncak. Salah satu perbedaan filsafat Yunani-Romawi dengan abad pertengahan ialah para pemikir Kristen abad pertengahan percaya akan suatu relevasi Ilahi yang definitif. Relevasi Ilahi ini terkutip dalam kitab suci dan diyakini sebagai kebenaran yang pasti. Ciri khas pada masa ini adalah relasi iman dan akal budi manusia.
  • Zaman Renaisans, pada abad 16. Zaman ini juga disebut sebagai zaman kebangkitan, dengan munculnya peristiwa sebagai berikut; 1) adanya usaha menghidupkan kembali karya-karya seni rupa dan sastra, filsafat dan pelbagai aspek lain dari kebudayaan Yunani-Romawi kuno, 2) banyaknya ilmu modern dan penemuan dunia baru yang mengindikasikan kemampuan manusia menguasai alam semakin besar, menguatkan gerakan humanisme baru yang mempengaruhi eropa, 3) berseminya gerakan reformasi dan kontra reformasi. Kalau Renaisans kembali pada keaslian ilham kebudayaan kuno dan humanisme kepada keistimewaan dan kebesaran manusia, memperbaharui kepercayaan kristiani yang dianggap merosot. Pada zaman ini, muncul Nicolo Machiavelli (1469-1527 M) dan Giordano Bruno, yang berbicara banyak tentang kuasa dan manajemen politik manusia dan memperoleh suatu filsafat politik yang relevan dan ditata secara moralis. Bruno mengajarkan suatu Pantheisme  yang mengungkap keinginan untuk memperhatikan dan menyatukan diri dengan alam/kosmos.
  • Filsafat Barat Modern, dimulai dengan Rene Descrates di Perancis dan Francis Bacon di Inggris, dengan karakteristik sebagai berikut; 1) tumbuh dalam konteks faktor-faktor kultural dan nasional modern, 2) secara intensif menggunakan bahasa-bahasa daerah setempat dan mengembangkan vokabuler teknis filosofis dalam tiap wilayah linguistik, 3) sangat kuat dipengaruhi oleh metode, konsep, dan persoalan-persoalan yang nampak dalam ilmu-ilmu fisis dan biologis, 4) pelan-pelan memisahkan diri dari kerangka teologis, 5) kesadaran historis dengan meminati pada persoalan genetika dan historisitas manusia. Sebagai perbandingan saja, zaman klasik diisi filsuf yang mencari prinsip-prinsip dasar kosmos (cosmosentris), abad pertengahan berkutat pada filsafat ketuhanan (teosentris), maka pada masa ini konsentrasi pada antroposentris, yaitu segala sesuatu berpusat dan bermuara dari dalam diri manusia sendiri. Penampakan manusia sebagai subyek aktif yang menjadi aktor penguasa  utama dalam perjalanan hidup di alam semesta ini merupakan tema pemikiran filsuf zaman ini.
  • Filsafat Kontemporer atau Filsafat Abad 20, ditandai dengan munculnya berbagai aliran berpikir dan madzab filsafat, sehingga sering timbul persilangan pendapat. Filsuf pada adab ini dipenuhi personil profesionalis dalam bidang matematika, fisika, sosiologi, ekonomi, psikologi dan lain-lain.

Ciri khusus filsafat zaman ini adalah desentralisasi manusia, di mana manusia ditempatkan menjadi bahasa sebagai subyek kenyataan. Manusia diambil alih perannya oleh bahasa, sehingga manusia tidak lagi berbicara sendiri tetapi dibicarakan melalui bahasa politik, ekonomi  dan sosial.
  1. Filsafat abad 20 di Perancis, ditandai adanya peristiwa di mana filsafat dipelajari mulai sejak sekolah menengah atas, tidak di universitas seperti negara-negara lain, sehingga banyak filsuf dan ilmuwan terkemuka berasal dari negara ini. Keadaan ini berubah sejak tahun 1970, di mana filsafat mulai kurang diperhatikan dan jam pelajarannya semakin dikurangi. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa filsafat dianggap idealistis-rasionalistis, dan lain sebagianya.
  2. Filsafat abad 20 di Inggris dan Jerman. Pada abad ini, filsafat idealisme berkembang pesat di Inggris. Filsafat Hegel berkembang kuat di Inggris, sementara pada saat  yang sama mulai pudar di Jerman, sehingga disebut sebagai filsafat Neo-Hegelisme. Filsafat Idealisme muncul sebagai reaksi atas materialisme dan positivisme yang sangat menguasai eropa pada saat itu. Filsuf yang berpengaruh di Inggris saat itu, Ludwig Wittgenstein (1889-1951 M) dikenal sebagai penemu permainan bahasa dan Alfred Jules (1910-1989) memunculkan filsafat bahasa atau filsafat analitik dengan ajarannya tentang positivisme logis. Di Jerman, muncul ajaran filsafat Neo-kantianisme, fenomenologi, filsafat eksistensi, positivisme, historisisme, dan filsafat dialogis. Neo-kantianisme mengarahkan manusia untuk selalu mengkritisi pengetahuan, dengan mengutamakan akal praktis daripada akal teoretis. Di samping itu, di Jerman juga tumbuh subur filsafat yang menekankan tentang hidup, dikembangkan oleh Wilhelm Ditlhey (1833-1911 M). Pada masa ini juga lahir suatu aliran filsafat dinamakan Fenemenologi yang didasari oleh Edmund Husserl (1859-1938 M), yang menegaskan peran realitas dan bagaimana kita membiarkan gejala dalam realitas membuka diri kepada subyek atau manipulasi data inderawi yang kita peroleh dari realitas. Filsafat Eksistensialisme menjadi populer pada abad 20. Muncul juga Frans Rosenzweig (1886-1929 M) yang melahirkan filsafat dialogis yang menekankan peran pengalaman bukan inderawi, yaitu pengalaman bertemu dengan Allah, dengan dunia dan sesama manusia. Warna filsafat neopositivisme kental menguasai Jerman pada abad 20 ini, dipelopori oleh tokoh-tokoh di antaranya Rudolp Carnap, Otto Neurath, Moritz Schlick, Hans Han dan Karl Popper. Filsafat lain yang mengakar adalah analisis-logis menyangkut filsafat bahasa.
  3. Filsafat di Amerika Utara, muncul bersamaan dengan pengaruh pemikiran evolusioner. Pada zaman ini muncul aliran pragmatisme yang menekankan kebenaran pada aspek praktis dan aspek guna, dipopulerkan oleh William James (1842-1910) yang mengklaim bahwa universum yang pluralistik dan milioristik lengkap dengan suatu Allah yang sedang dalam proses perkembangan, tidak hanya lebih merangsang bagi perasaan moral manusia, tetapi juga lebih dekat pada kebenaran tentang adanya. Kesulitan mempertemukan pemuasan dengan pembenaran ide-ide tanpa kembali kepada kemutlakan idealistik dari James, memunculkan aliran naturalisme. Pandangan ini disampaikan oleh George Santayana, bahwa segala sesuatu yang ideal memiliki basis yang riil dalam dunia material yang natural dan segala sesuatu yang riil memiliki suatu modus ideal pemenuhan dalam tata imaginasi. Santayana memandang bahwa roh manusia sebagai suatu tindakan yang tetap, suatu transisi dari materi kepada imaginasi dan kembali lagi kepada materi, dan mereduksikan agama sebagai suatu saringan pelbagai aspirasi lewat permainan imaginasi. Tokoh lain, John Dewey mengajarkan naturalisme yang anti-dualistik dalam hubungan dengan distingsi jiwa-badan, Allah-dunia. Ernest Nagel memasukkan naturalisme ke dalam suatu filsafat ilmu, John Randall Jr. menerapkannya ke dalam filsafat sejarah dan agama, dan Stephen Pepper dalam filsafat tentang ilahi. Gerakan filsafat lain di Amerika adalah filsafat realisme yang mengungkapkan bahwa segala sesuatu tidak tergantung pada pengalaman manusia tentang mereka, tetapi harus dilihat sebagaimana adanya tanpa adanya spekulasi dan idealisasi. Filsafat realisme ini membelah menjadi dua, realisme kritis dan realisme baru. Realisme baru menegaskan bahwa segala sesuatu dapat diinderai secara langsung, di mana dunia ini adalah riil dan obyektif yang tidak akan berubah karena perubahan pengetahuan manusia tentang obyek tersebut. Menurutnya, dunia di sekeliling kita tidak berada dalam kesadaran kita sendiri, sedangkan kita hanya memiliki data rasa dan gambaran-gambaran mental tentang dunia ini. Data rasa ini menunjukkan watak dari obyek luar, dan akal yang mempersepsinya. Setelah Perang Dunia II, di Amerika filsafat berkembang melalui pelbagai bidang ilmu dan teknologi berbarengan dengan pelbagai gejolak dan perkembangan sosial di dalamnya.


Follow by Email