Home AD

Friday, March 14, 2014

PUYUH (Coturnix coturnix japonica)



A.  Deskripsi Puyuh (Coturnix coturnix japonica)

            Puyuh (Coturnix coturnix japonica) merupakan hasil domestikasi dari puyuh liar (Coturnix coturnix) yang dilakukan di Jepang (Cooper, 1976).  Burung puyuh yang dipelihara di Indonesia pada mulanya diimpor dari Taiwan, Hongkong dan Jepang (Nugroho dan Mayun, 1986).  Semenjak akhir tahun 1979, puyuh jenis Coturnix coturnix japonica mulai populer di Indonesia sebagai ternak yang dipelihara untuk usaha sambilan maupun komersil.  Selain diambil telurnya, daging puyuh juga merupakan makanan yang lezat dan mengandung gizi tinggi (Rasyaf, 1991).
            Menurut Nugroho dan Mayun (1986), klasifikasi puyuh Jepang (Coturnix coturnix japonica) adalah sebagai berikut :  
Class                :  Aves
Ordo                :  Galliformes
Sub Ordo        :  Phasianoidae
Famili              :  Phasianidae
Genus              :  Coturnix
Species            :  Coturnix-coturnix japonica.
            Puyuh yang telah didomestikasi ini mencapai kecepatan pertumbuhan yang tinggi dan dewasa kelamin dalam jangka waktu yang singkat.  Keadaan fisiologisnya hampir sama dengan ayam (Lee dkk., 1977).  Puyuh (Coturnix coturnix japonica) mempunyai panjang badan 19 cm, berbadan bulat, berekor pendek, paruh pendek dan kuat serta berjari kaki empat dan berwarna kekuning-kuningan dengan susunan tiga jari menghadap ke depan dan satu jari ke belakang (Nugroho dan Mayun, 1986).

B.  Pertumbuhan
            Pertumbuhan merupakan fenomena universal yang bermula dari satu telur yang dibuahi dan selanjutnya terus mencapai dewasa (Tillman dkk., 1986).  Pertumbuhan adalah proses yang sangat kompleks, bukan saja pertambahan berat badan tetapi juga menyangkut pertumbuhan semua bagian tubuh secara serentak dan merata.  Pola pertumbuhan tersebut dibagi dua tahap, yaitu tahap pertumbuhan cepat, terjadi sebelum ternak mencapai dewasa kelamin dan berat hidup bertambah terus-menerus dengan cepat.  Tahap kedua kecepatan pertumbuhan semakin menurun sampai dengan ternak mencapai dewasa kelamin (Maynard dkk., 1983).
            Pertumbuhan yang normal pada unggas bila berat badan diproyeksikan terhadap umur diperoleh kurva pertumbuhan yang secara umum berbentuk sigmoid (Soeharsono, 1976).  Kurva pertumbuhan pada puyuh bentuk sigmoidnya tidak jelas yang cenderung merupakan garis lurus.  Hasil penelitian Sreenivasaiah dan Joshi (1979) kurva pertumbuhan puyuh berbentuk sigmoid yang terdiri dari fase percepatan pertumbuhan (accelerating phase) yaitu umur 0 – 56 hari dan fase perhambatan pertumbuhan (retarding phase).  Pada fase percepatan pertumbuhan puyuh dibagi atas tiga bagian, yaitu umur 0 – 12 hari, 12 – 40 hari dan 40 – 56 hari. Kecepatan pertumbuhan sangat penting untuk keefisienan ransum (Jull, 1979).  Persentase kecepatan pertumbuhan puyuh jantan dan betina dari umur satu hari sampai dengan lima minggu tidak berbeda nyata.  Perbedaan kecepatan pertumbuhan antara jantan dan betina mulai tampak pada waktu puyuh berumur enam minggu (El Ibiary dkk., 1966).
            Puyuh mengalami laju pertumbuhan pertambahan yang paling cepat terjadi pada umur satu hari sampai empat minggu, yaitu pada saat pertambahan berta hidup meningkat dari tujuh gram pada umur satu hari menjadi 95,2 gram pada umur empat minggu.  Pada saat itu berat badan puyuh jantan relatif lebih rendah daripada puyuh betina.  Berat badan puyuh betina pada umur dua minggu adalah 26,4 gram meningkat menjadi  69,5 gram pada umur empat minggu dan pada umur enam minggu menjadi 106,4 gram.  Menurut El Ibiary dkk. (1966) laju pertumbuhan yang terbesar yaitu pada minggu pertama sampai minggu ketiga yaitu sebesar 56,5% - 58,3%.
            Unggas pada dasarnya mengalami pertumbuhan dan perkembangan sel pada fase embrional pertumbuhan dan perkembangannya terjadi di luar tubuh induk, maka pertumbuhan dan perkembangannya disamping ditentukan oleh faktor genetik, faktor lingkungan juga sangat mempengaruhi pertumbuhan (Soeharsono, 1976).

C.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
1.  Genetik
            Kecepatan pertumbuhan makhluk hidup berbeda-beda pada tiap spesies.  Pertumbuhan merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan.  Potensi genetik merupakan faktor kelanggengan yang diperoleh setiap individu dari masing-masing induk dan bapaknya (Soeharsono, 1976).
2.  Ransum
            Makanan sebagai sumber energi dibutuhkan dalam semua proses biologis hewan, diantaranya untuk pergerakan, pernafasan, makan, sistem saraf, pengaturan suhu tubuh dan proses kehidupan pada umumnya (Card dan Nesheim, 1972).
            Ransum adalah sejumlah bahan makanan yang diberikan kepada seekor hewan selama periode 24 jam (Hartadi, 1980).  Hal yang diperhatikan dalam ransum adalah imbangan energi dan protein.  Ketidakseimbangan energi dan protein dalam ransum akan menyebabkan zat-zat makanan tidak dipergunakan sebagaimana mestinya (Ewing, 1963).
            Protein secara umum dibagi menjadi dua kategori, yaitu protein hewani yang berasal dari hewan dan protein nabati yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (Cullison, 1978).  Penggunaan protein hewani di dalam ransum unggas akan melengkapi nilai gizi ransum yang terdiri dari bahan nabati, sehingga akan memberikan hasil yang lebih unggul (Anggorodi, 1985).
            Menurut Wahju (1992), faktor-faktor yang menyebabkan protein hewan lebih unggul dibandingkan protein tumbuh-tumbuhan adalah  (1) Adanya kalsium dan fosfor yang berasal dari tulang hewan, (2) Vitamin B-complek terutama riboflavin pada susu skim kering, (3) Vitamin B12 yang terdapat pada semua bahan berasal hewan tetapi tidak ada pada tumbuh-tumbuhan, dan (4) asam amino methionin dan lisin yang terdapat pada protein ikan, telur dan susu dalam kadar yang lebih tinggi daripada protein berasal dari tumbuh-tumbuhan, sehingga pemberian ransum yang paling efisien diperoleh jika perbandingan energi dan zat-zat makanan dalam ransum sesuai untuk kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan dan produksi telur.
            Laju pertumbuhan dan jumlah ransum yang dikonsumsi mempunyai korelasi positif.  Semakin banyak ransum yang dikonsumsi, semakin cepat pertambahan bobot badan yang akan dicapai (Schaible, 1979).  Menurut Lee dkk. (1979) konsumsi ransum pada puyuh meningkat sejalan dengan terjadinya peningkatan bobot badan dan apabila telah mencapai dewasa kelamin, baik konsumsi ransum maupun pertambahan berat badan sudah mulai menurun. 
            Pada setiap tahap pertumbuhan dan perkembangannya, puyuh membutuhkan pakan dengan kualitas berbeda.  Pembedaan kualitas pakan ditandai dengan kadar protein kasar yang terkandung dalam pakan tersebut (Abidin, 2002).
3.  Konversi Ransum
            Konversi ransum merupakan perbandingan rataan konsumsi ransum dengan rataan pertambahan berat badan.  Nilai rasio konversi ransum merupakan rasio yang menunjukan keefisienan penggunaan ransum untuk menghasilkan pertambahan bobot badan sebesar satu satuan.  Dengan demikian makin rendah angka konversi ransum, makin efisien dalam penggunaan ransum (Sudjarwo, 1988; North dan Bell, 1990).
            Konversi ransum dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain bobot badan, imbangan energi protein ransum, suhu lingkungan dan kesehatan (Card dan Nesheim, 1979).  Menurut Marks (1980) menyatakan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap konversi ransum pada puyuh adalah perbaikan genetik untuk memperoleh bobot badan yang tinggi dengan konsumsi rendah, yang pada gilirannya didapatkan penggunaan ransum yang lebih efisien atau konversi ransum rendah.  Selanjutnya menurut Siegel dan Wisman (1966), terdapat hubungan positif antara selera makan (appetite) dan efisiensi penggunaan ransum dengan bobot badan.  Konversi ransum puyuh menurut Narahari, dkk (1988) pada umur 4 – 6 minggu berturut-turut 5,05; 5,15; 5,04 dan 5,29 dengan tingkat kandungan protein ransum 18%, 20%, 22% dan 24% dan tingkat energi ransum yang sama yaitu 2600 Kkal/kg.
4.  Umur Saat Dewasa Kelamin
            Dewasa kelamin pada puyuh betina ditandai dengan pertama kali bertelur, sedang pada jantan dengan mulai berkokok dengan suara khas (Djulardi, 1995).    Penelitian para pakar puyuh memberikan hasil bahwa umur dewasa kelamin pada puyuh dicapai sekitar 51 hari (Tiwari dan Panda, 1978), 49 – 52 hari (Pandelaki dkk., 1982), 53 hari (Hakim, 1983), dan 49 hari (Garnida, 1998).  Kisaran umur dewasa kelamin ini karena dipengaruhi oleh kesehatan, tatalaksana, genetik, pencahayaan, berat badan dan makanan (Sefton dan Siegel, 1974; North dan Bell, 1990).   

Follow by Email