Home AD

Wednesday, March 21, 2012

KHOTBAH JUM'AT : BERJUANGLAH DEMI KEMULIAN ISLAM


الحمدلله فا طرالسّموت والارض, يزيد فى الخلق ما يشآء انّ الله على كلّ شئ قدير, اشهد ان لااله الاّالله وحده لاشريك له واشهد انّ محمّدا عبده ورسو له, اللهمّ فصلّ وسلّم وبارك علىمحمّد وعلى اله وصحبه وسلّم تسليما كثيرا, اماّ بعد فيا ايّها المسلمون الكرام ,عبا دالله اتّق الله وطا عته لعلّكم تتقون  
Hadirin sidang jum’ah rohimakumullah

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Swt. karena berkenannyalah kita sampai saat ini masih mampu melaksanakan salah satu kewajibanNya yang telah disyari'atkan melalui Rasullah Muhammad Saw.yaitu melaksanakan salat lima Waktu dan salat Jum'at pada siang hari ini. Semoga teman-teman dan saudara-saudara kita yang belum mampu melaksanakan hal yang sama  ini segera diberi kesempatan oleh Allah untuk dapat melaksanaknnya.
Disamping itu, khatib perlu juga untuk saling mengingatkan kepada para jama'ah untuk senantiasa meningkatakan iman dan taqwa. Peningkatan dalam artian selalu berusaha melaksanakan segala titah dan perintah Allah Swt. dan meninggalkan segala larangan-Nya, sesuai dengan kapasistas kemampuan kita .
Uraian mengenai perintah untuk dapat lebih meningkatkan taqwa kepada Allah, yang diwasiatkan dalam khutbah kita hari ini, diawali dengan sebagian dari firman Allah dalam surah Annisa, ayat 95
فضّل الله المجهدين باموا لهم وانفسهم على القعدين درجة, وكلاّ وعدالله الحسنى وفضّل الله المجهدين على القعدين اجرا عظيما
Allah melebihkan orang2 yg berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang2 yang duduk (diam) yaitu satu derajat. Kepada masing2 mereka, Allah menjanjikan pahala yg baik (syurga) dan Allah melebihkan orang2 yg berjihad atas orang yg duduk (diam) dengan pahala yg besar.

Derajat yang tinggi dan pahala yang besar dari Allah itu menurut firman- Nya dalam
Alqur’an surah Annisa 95 tadi tidak pernah dinikmati dan dianugerahkan kepada orang yang hanya berdiam diri, yg udzur atau yang hanya duduk2 saja dalam berjihad atau berjuang di jalan Allah, apakah ia berjuang dengan hanya menafkahkan hartanya, tenaganya atau mengorbankan jiwanya menjadi syahid di jalan Allah.
Selama hayat masih dikandung badan, dan selama dunia ini belum kiamat Allah menguji kita semua dengan perkara jihad ini terbentang di hadapan kita yg memerlukan eksistensinya, ini dimaksudkan agar ada pembeda tentang kualitas manusia dihadapan- Nya kelak di yaumil hisab.
Oleh karena itu pesan taqwa senantiasa diturunkan agar sebagai orang yg beriman tidak boleh pasif, bahkan lemah terhadap segala gejala, atau fenomena kehidupan ummat atau masyarakat yg tidak sesuai dengan tatanan serta tuntunan agama Allah dan rasul-Nya.
 
Sebagai ilustrasi dari perbedaan kualitas ummat di akhir zaman seperti sekarang ini dengan kondisi ummat muslimin di masa2 awal perjuangan tegaknya pemerintahan Islam yg dipimpin rasululloh SAW.

Para hadirin yg dimuliakan Allah,

Pada tahun kedelapan hijrah Nabi Muhammad SAW memerintahkan sekitar 3.000 orang pasukannya untuk melakukan ekspedisi ke Basra (negeri Syam) yang masih di bawah kekuasaan kaisar Hiraklius, Romawi. Rasululloh memutuskan untuk mengirim pasukan itu, setelah penguasa Basra, Syuhrabil bin Amru menganiaya dan memenggal kepala Harist bin Umair yang membawa pesan perdamaian dari rasululloh. Ekspedisi itu dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, sebelum pasukan berangkat Nabi memberikan pesan :
ان اصيب فجعفربن ابى طا لب على النّاس, فان اصيب جعفر, فعبد الله بن الرّوا حه     
Jika Zaid bin Haritsah gugur, Ja’far bin Abi Thalib sebagai gantinya yang akan memegang tampuk pimpinan, dan jika Ja’far bin Abi Thalib gugur  ia diganti oleh Abdullah bin Rawahah.

Sayangnya berita keberangkatan ekspedisi ini diketahui oleh Syahrabil penguasa Hiraklius di Syam, akibatnya lebih dari 100.000 pasukan Romawi, Yuani dan Arab yg dipimpin Theodorus menghadang 3.000 pasukan muslim. Ketika mendengar penghadangan ini Zaid pun mengadakan musyawarah di Ma’an, ada yang mengusulkan agar hal ini dilaporkan kepada Nabi Muhammad untuk kemudian menunggu instruksi dari Madinah. Hampir saja usul itu diterima, tiba Abdullah bin Rawahah mengatakan :
“ Kita tidak pernah berperang mengandalkan bilangan dan kekuatan, tetapi berdasarkan kebenaran agama ini. Dan kita hanya punya dua alternatif : Menang  atau gugur sebagai syahid”.عش كريما أو مت شهيدا
Maka terjadilah peperangan yang tidak seimbang 3.000 lawan 100.000, 3 orang kaum muslimin melawan 100 orang musuh di Mu’tah kini wilayah Yordania. Bendera Nabi dibawa oleh panglima Zaid bin Haritsah di tangan kiri dan pedang di tangan kanan, Zaid yakin kematiannya sudah tak terelakkan lagi, tapi justru mati disini berarti syahid.

Para hadirin sidang Jum’ah r.a.

Setelah pasukan muslim bertempur habis2an, ketika belasan pedang menebas tubuh Zaid dan beliau  gugur, Ja’far bin Abi Thalib langsung menyerbu pasukan musuh dan merebut bendera Nabi, ketika tangan kanannya yang memegang bendera Nabi terpotong ia pun mengambil bendera itu dengan tangan kirinya. Dan ketika kedua tangannya terpotong dipeluknya bendera itu dengan kedua pangkal lengannya hingga ia gugur sebagai syahid. Kemudian bendera itu diambil oleh Abdullah bin Rawahah, tapi sayangnya sebentar ia agak ragu ketika menghadapi musuh, sekalipun akhirnya beliau tewas juga sebagai syahid.
Nabi Muhammad SAW terharu ketika mendapat laporan peristiwa heroik yg mengakibatkan gugurnya 3 sahabatnya yg terbaik itu, beliau mengatakan :
“ Aku melihat Zaid dan Ja’far seperti mimpi orang yang sedang tidur ditempatkan di surga di atas ranjang emas, lalu saya lihat, lanjut rasululloh ranjang Abdullah bin Rawahah agak miring dari ranjang kedua rekannya itu. Ketika ditanya oleh para sahabat kenapa demikian, Nabi pun menjawab Karena Zaid dan Ja’far terus maju, tapi Abdulah agak ragu, sekalipun ia kemudian terus maju”.

Hadirin yang mulia.

Dari kisah ini kita mendapat teladan bahwa dalam berjuang, seorang mukmin tidak dibenarkan untuk ragu2. Apalagi demi membela panji Allah dan Tanah Air, lebih2 sekarang ini saat ummat
Islam makin dihadapkan pada berbagai tantangan, yang berupa krisis politik, ekonomi, krisis akhlak dan krisis kepercayaan. Seorang muslim tidak boleh ragu2 apalagi sampai mandeg dalam berjuang untuk mewujudkan tatanan masyarakat madani di era reformasi ini.    
Tetapi disamping itu perlu juga kita mengadakan introspeksi kenapa selama ini para pemimpin Islam begitu mudah dipecah belah dan saling bertengkar satu sama lain, untuk sebuah kekuasaan, pangkat, uang dan kesombongan. Mudah2an pernyataan saya ini keliru, seolah2 mereka sudah tidak menghiraukan peringatan Allah dan tuntunan rasululloh yang mengajarkan agar kita bersatu dan jangan berpecah belah “wa’tashimu bikhablillahi jami’a, wala tafarroqu”.

Bukankah lebih baik para pemimpin kita menyatukan misi dan visi untuk membangun kembali tatanan bangsa dan negara yang tengah porak poranda ini dengan sesuatu yang bisa mensejahterakan rakyat, rasa aman dan tenteram dengan tegaknya konstitusi yang bernuansa Islam atau sekurang2nya ajaran Islam sebagai rakhmatan lil alamin. Jihad kita lakukan dengan harta dan kalau perlu jiwa untuk menghambat pengaruh faham yg bertentangan dengan ajaran Allah dan rasul-Nya.

Kita harus waspadai keterbukaan yang sedang ngetren sekarang ini, keterbukaan untuk mengkrikit, mengeluarkan keinginan kelompoknya, meskipun bertentangan dengan tuntunan agama. Keterbukaan yang tanpa rambu-rambu yang telah merasuki simpul2 kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang menyebabkan timbul rasa curiga satu sama lain dan menimbulkan perpecahan dan lemahnya perjuangan ummat Islam    Oleh karena itu tidak heran jika sampai Nabi SAW sendiri begitu khawatir akan keadaan ummatnya di masa depan. Kata beliau : Kamu menjadi lemah bukan karena jumlahmu sedikit, tapi karena kamu terpecah belah sehingga seperti buih di lautan.
Bagian akhir dari khutbah kita hari ini,  dengan merujuk kepada firman Allah mengenai kewajiban untuk berjihad dengan harta, benda dan nyawa, serta keteladanan para sahabat yang telah mati sebagai syuhada’ demi tegaknya agama Allah yang senantiasa berjuang tidak pernah ragu itu dapat menjadi
panutan kita bersama : Asyidda’u ‘alal kuffar, rukhama’u bainahum (mereka itu orang2 yg bersama Muhammad itu keras terhadap orang2 kafir dan kasih sayang lemah lembut terhadap sesama muslim).
Kita berlindung kepada Allah dari perbuatan orang yang dungu, bebal sebagai munafiq seperti firman Allah dalam surah Attaubah : 126

اولا يرون انّهم يفتنون في كلّ عا م مرّة اومرّتين ثمّ لا يتوبون ولاهم يذّكّرون
 Tidaklah mereka menyadari bahwasanya mereka setiap tahun dicoba, diuji satu kali atau dua kali, kemudian mereka tidak mau bertobat dan mereka juga tidak mau mengambil manfaat dari peringatan itu.
  
Semoga khutbah kita hari ini  menjadi renungan agar kekeliruan2 kita di masa lalu tidak terulang kembali dengan memperhatikan sabda rasululloh :
                                                                    لايلدع المؤمن من حجر واحد مرّتين
Orang yang beriman itu tidak akan tersengat atau terperosok dalam satu lubang untuk kedua kali.
Semoga Allah selalu membimbing kita ke arah yang di ridloi-Nya, arah yang tidak akan menyesatkan kita semua, sebab di jalan itu kita akan memperoleh kenikmatan dan kemenangan.
بارك الله لى ولكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم, وتقبل منى ومنكم تلاوته إنه هو الغفور الرحيم.

Follow by Email