Home AD

Wednesday, March 21, 2012

VITAMIN UNTUK TERNAK


BAB I
PENDAHULUAN
     Keadaan lingkungan khususnya di Indonesia yang di-kenal sebagai negara tropis yang panas dan lembab adalah merupakan keadaan yang tidak menguntungkan, ter-utama keadaan ini akan menimbulkan ancaman untuk men-derita stress.
     Stress atau cekaman adalah suatu keadaan tubuh yang mengalami perubahan kondisi hormonal secara temporer sebagai usaha pertahanan tubuh terhadap pengaruh dari luar yang mengancam.  Keadaan stress yang disebabkan karena faktor lingkungan terutama adanya suhu yang tinggi sekali (panas) biasa dikenal dengan “heat stress” yang pada akhirnya atau yang lebih parah akan menyebabkan dehydrasi (kekurangan cairan) tubuh.
     Beberapa usaha yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut diantaranya usaha perbaikan kondisi lingkungan (usaha luar) dan usaha perbaikan kondisi tubuh (usaha dalam).  Perbaikan kondisi lingkungan bisa dilakukan diantaranya dengan mengatur temperatur, sedangkan perbaikan kondisi tubuh bisa dilakukan dengan perbaikan kualitas pakan (diet) yang diberikan.
     Faktor pakan yang biasa dikonsumsi dalam keadaan normal mungkin sudah cukup memenuhi gizinya, tetapi dalam keadaan stress, disini pakan yang dikonsumsi bisa ditambahkan dengan vitamin, umumnya vitamin C.   
     Sudah diketahui umum bahwa vitamin C banyak peran-annya dalam metabolisme zat-zat makanan dalam tubuh dan yang penting disini vitamin C tersebut dapat meningkat-kan daya tahan tubuh, sehingga dapat dipakai sebagai zat tambahan dalam pakan (diet) untuk mengatasi keadaan tubuh yang mengalami stress.
     Vitamin C tersebut dapat disintesis dalam tubuh, kecuali pada primata, manusia, monyet dan marmot.  Pada unggas meskipun vitamin ini dapat disintesis dalam tubuhnya, tetapi dalam keadaan stress unggas ini me-merlukan tambahan vitamin C dalam pakannya.

BAB II
BERBAGAI MACAM STRESS PADA UNGGAS
     Stress atau cekaman adalah suatu keadaan dimana dalam tubuh ayam terjadi gangguan hormonal, metabolisme maupun kondisi fisik secara temporer yang disebabkan oleh pengaruh atau keadaan yang buruk.
     Ada dua jenis cekaman, yaitu cekaman rutin dan  cekaman berat.  Terjadinya cekaman rutin banyak di-sebabkan oleh ventilasi kandang yang kurang baik, kepadatan ayam dalam kandang yang tinggi sehingga ayam berdesak-desakan , perubahan pakan dan cara pemberian-nya, perubahan pemberian cahaya dan intensitasnya, serta kekurangan air minum.  Sedangkan cekaman berat penyebabnya diantaranya yaitu vaksinasi, potong paruh, pndah kandang, penyakit dan infeksi.
     Pada ayam petelur di Indonesia, ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan stress yang disesuaikan dengan pendapat North (1984), yaitu :
1.  Gangguan keadaan iklim
    Kondisi yang panas sekali akan menyebabkan ayam “panting” (terengah-engah), banyak minum, kurang makan dan produksi turun serta telur yang dihasil-kan kecil-kecil (Stadelman dan Cotteril, 1977), sedangkan kondisi yang dingin dan lembab menyebab-kan ayam mudah atau sering terserang snot.
2.  Gangguan fisik karena kebisingan
    Pada ayam petelur tipe ringan (Leghorn), mempunyai sifat mudah terkejut (“nervous”), sehingga sering atau mudah terkena stress karena keadaan sekitar atau lingkungan yang bising.
3.  Sistem perkandangan yang tidak memenuhi syarat
    Biasanya kondisi kandang di Indonesia menggunakan        sistem kandang terbuka “open side wall house”, sehingga sulit melakukan kontrol akibat pengaruh lingkungan yang bervariasi.
4.  Pemberian pakan dan air minum yang tidak tepat waktu dan jumlahnya
Usahakan pemberian pakan tiga kali sehari dengan jumlah yang cukup dan air minum jangan sampai kosong pada tempatnya.  Pemberian pakan dan minum ini harus dikontrol sesering mungkin untuk meng-hindari ayam terkena stress.
5.  Kandungan gizi dalam pakan yang tidak sempurna sehingga menyebabkan defisiensi gizi, tenaga untuk hidup berkurang dan menurunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi penyakit yang dapat merugikan.
6.  Tidak teraturnya program vaksinasi yang dilakukan, sehingga biasanya ayam akan menderita stress se-telah kegiatan vaksinasi ini.
7.  Setelah pemotongan paruh
8.  Setelah pemberian obat-obatan
9.  Gangguan parasit, predator dan lain-lain
10. Guncangan karena transportasi atau pemindahan kandang pada fase-fase pemeliharaan
11. Gangguan sumber pemanas atau penerangan
    Bagi peternak yang menggantungkan sumber pemanas      dari PLN seringkali menderita kerugian besar karena lampu sering mati tiba-tiba yang dapat menyebabkan ayam “molting” mendadak.
     Bila keadaan yang mencekam ini berlangsung terus menerus dalam waktu yang lama, maka akan terjadi pengaruh yang lebih buruk yaitu dehydrasi (berkurangnya cairan tubuh), pertumbuhan terganggu, konversi pakan menurun, produksi telur turun, kualitas telur turun, fertilitas dan daya tetas menurun, kemampuan seksual dan mutu hormon menurun, kebutuhan akan vitamin serta elektrolit dan protein meningkat, daya tahan tubuh rendah, mudah terserang penyakit dan fatal akibatnya yaitu ternak akan mati.  
     Pada umumnya peternak kurang menyadari akibat negatif dari pengaruh cekaman ini, sehingga sering mengadakan tindakan yang tidak tepat.
     Dari segi teknis dan ilmiah ada beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah atau menghindari atau menekan terjadinya stress ini, diantaranya yaitu :
1.  Usaha yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi
    lingkungan.
2.  Usaha yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi
    ternak.
     Usaha yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi lingkungan yang sering dilakukan yaitu dengan memper-baiki sistem manajemen, perkandangan, perlakuan  vaksinasi, dan lain-lain.  Sedangkan usaha yang ber-tujuan untuk memperbaiki kondisi ayam, diantaranya dengan pemberian pakan yang ditambahkan dengan anti stress.  Anti stress ini bukan merupakan zat gizi atau obat, melainkan suatu zat atau bahan pakan yang khusus disusun untuk menanggulangi ayam yang terkena stress.
Umumnya anti stress ini berupa campuran multivitamin dan antibiotika.  Namun pemberian anti stress yang mengandung antibiotika ini jarang digunakan karena mem-punyai efek residu, bahaya bila pemberiannya tidak sesuai dosis, serta harganya mahal.  Jadi yang paling efektif diberikan sebagai anti stress yaitu vitamin, disamping pengaruhnya yang tidak banyak berbeda dengan antibiotika, dari segi ekonomis harganya murah dan banyak terdapat di sekitar kita.
     Vitamin secara umum sering didefinisikan sebagai suatu senyawa organik yang essensial untuk mempertahan-kan kehidupan dan pertumbuhan yang normal pada ternak, yang dibutuhkan dalam jumlah kecil atau sedikit (Morrison, 1961 dan Mc Donald et al., 1972).
     Vitamin yang kita kenal ada dua kelompok, yaitu vitamin yang larut dalam lemak K dan vitamin yang larut dalam air.  Vitamin yang larut dalam lemak antara lain vitamin A, D, E dan K, sedangkan vitamin yang larut dalam air antara lain vitamin B, C dan derivat-derivatnya.   Semua vitamin tersebut berkhasiat untuk tubuh ayam dan masing-masing ada dosis kebutuhan, akibat kekurangan dan kelebihannya.  Disini akan di-bahas salah satu vitamin yang larut dalam air yang mempunyai khasiat diantaranya dapat meningkatkan metabolisme dalam tubuh sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh ayam.
 BAB III
VITAMIN C
     Vitamin C yang ada di pasaran sering disebut sebagai asam ascorbat, L-ascorbat acid, Hexuronic acid, Anti scorbutic vitamin, Cevitamic acid (Scott et al., 1976), juga sering disebut sebagai anti scorbic factor (Ewing, 1963).
     Harper et al. (1984) menyatakan bahwa struktur kimia asam ascorbat (vitamin C) mirip dengan struktur monosakarida yaitu senyawa kimia dengan rumus bangun seperti yang dikemukakan ole Ewing (1963), dan        Mc Donald et al. (1972), ialah
 O  =  C                              C  =  O
OH     C            2H                C  =  O
OH     C    O             -2H    O    C  =  O
 H     C        +2H                   C     H
OH     C    H                    0H   C     H
       CH2OH                          CH2OH
    C6H8O6                            C6H6O6 (CHO)6
  L-asam ascorbat                     L-dehydroascorbic       
 (bentuk tereduksi)                   acid
     Menurut Morrison (1961) dan Mc Donald et al. (1972), vitamin C ini berbentuk kristal, tidak berwarna (bening), larut dalam air, mengandung asam dan mem-punyai daya reduksi yang besar, stabil pada larutan asam, larut dengan segera dalam larutan alkali dan mudah rusak apabila kena cahaya (panas), serta tahan terhadap pembekuan.  Vitamin C ini mudah dioksidasi menjadi bentuk dehydro.
     Asam ascorbat ini dapat disintesis pada tubuh ternak, pada ayam memungkinkan sintesis vitamin C ini karena mempunyai ketiga enzim yang diperlukan yaitu enzim NADPH, L-gulonolakton oxidase, D-glukuronolakton reduktase yang semuanya terdapat di dalam ginjal ayam.  Dalam keadaan tercekam (stress) ayam tidak dapat men-sintesis asam ascorbat dalam jumlah cukup, sehingga perlu ditambahkan dalam pakannya.
     Banyak peranan vitamin C yang telah terbukti, be-berapa dilaporkan Harper et al. (1984) bahwa vitamin C ini untuk mempertahankan zat-zat interseluler normal tulang rawan, dentin dan tulang.  Juga berperan sebagai katalisator pada berbagai reaksi kimia dalam tubuh.  Benerjee (1978) mengemukakan peranan biokimia dalam tubuh dari vitamin C ini, yaitu :   
1.  Sebagai zat esensial untuk pembentukan kolagen dalam tulang.
2.  Membantu merubah asam folic menjadi bentuk aktifnya yaitu asam tetra hydrofolic.
3.  Ikut berperan dalam metabolisme asam amino yaitu dalam hydroxilase prolin, lysine dan anilin yang berperan untuk terciptanya fungsi fisiologis yang baik bagi ternak.
4.  Membantu penyerapan zat besi, sehingga dapat men-cegah terjadinya anemia.
     Peranan lain dari vitamin C ini yaitu sebagai antioksidan.  Untuk mencegah proses oksidasi pada buah-buahan atau sayuran yang dikemas dalam kaleng supaya tidak berubah warna (biasanya menjadi kehitam-hitaman), maka ditambahkan vitamin C.  Vitamin C dalam tubuh banyak terdapat atau tersimpan dalam jaringan-jaringan, hipofisis, korteks adrenal, korpus luteum dan thymus.  Dalam jumlah sedikit terdapat pada organ ginjal, jantung dan paru-paru.  Otot tidak banyak mengandung vitamin C.  Kelenjar air liur dan dinding usus pada umumnya mengandung vitamin C dalam konsentrasi yang tinggi pula (Rosenberg, 1945).  Vitamin C ini dalam tubuh diserap atau diabsorbsi dalam usus,  oleh karena itu kekurangan zat makanan ini diakibatkan oleh konsumsi makanan yang tidak cukup.  Kandungan vitamin C pada jaringan binatang dan jaringan tumbuh-tumbuhan lebih besar bila dibandingkan dengan vitamin yang larut dalam air lainnya.
     Vitamin C mempunyai peranan dalam proses meta-bolisme tubuh.  Beberapa fungsi fisiologis dari vitamin C diantaranya :
1.  Untuk pembentukan substansi cairan intraseluler
    pada jaringan skelet dan memelihara fungsi normal
    jaringan.
2.  Perangsang pada mekanisme pertahanan tubuh.
3.  Meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi dan
    membantu perbaikan kualitas kerabang telur.
     Sifat vitamin C yang lain, yaitu merupakan vitamin yang larut dalam air yang paling kurang stabil, paling mudah rusak oleh pemanasan dengan adanya sedikit logam seperti tembaga (Cu), tahan pembekuan.
     Tidak dikenal efek toksik dari vitamin C ini, tapi pada pemberian yang terlalu banyak akan menyebabkan tidak efektif lagi dan mempunyai beberapa efek samping-an, diantaranya :
1.  Pada anak-anak ayam yang dalam ransumnya kekurangan
    unsur tembaga (Cu), tambahan vitamin C akan me-
    nyebabkan kematian.
2.  Bila diberikan dalam jumlah berlebihan pada ayam
    petelur yang sedang berproduksi dapat menyebabkan
    penurunan produksi telur dan bobot badan akhir.
3.  Gangguan pencernaan, sehingga ternak akan meng-
    alami diare (mencret).
     Harper et al. (1984) menyatakan bahwa, sumber vitamin C yang baik adalah buah sitrun, arbei, semangka, tomat, cabai hijau, kol merah dan sayur-sayuran yang berdaun hijau, khususnya selada hijau, juga kentang segar yang tiap gramnya mengandung sedikit vitamin C, tapi bila konsumsi dalam jumlah banyak akan merupakan sumber yang cukup baik.  Pada waktu memotong dan mencuci sayuran, banyak vitamin C yang hilang, karena sifat vitamin ini yang larut dalam air.  Selain sumber tersebut di atas, rumput-rumputan hijau juga merupakan sumber vitamin C (Morrison, 1961).  Susu juga merupakan sumber vitamin C, tapi sering hilang pada waktu proses pasteurisasi (Maynard dan Loosli, 1951).
          BAB IV
PENGGUNAAN VITAMIN C SEBAGAI ANTI STRESS PADA AYAM
     Dalam kedaan normal tubuh dapat mensintesis vitamin C, tetapi dalam keadaan stress level asam ascorbat dalam adrenal ayam menurun, sehingga perlu di-tambahkan vitamin C dalam pakannya.
     Umur ternak cenderung berpengaruh pada kandungan asam ascorbat pada jaringan tubuh.  Semakin tua umur ternak, kandungan asam ascorbat pada organ-organ seperti otak, kelenjar adrenal, pankreas, hati, ginjal, jantung dan testes cenderung menurun.
     Shul’ga (1980) melaporkan hasil penelitiannya bahwa dengan pemberian 50 mg vitamin C per kg pakan yang diberikan selama 10 hari akan menambah imunitas pada ayam setelah vaksinasi, resistensi terhadap infeksi, produksi telur dan daya tahan tubuh dapat dipertahankan guna kelangsungan hidup pada temperatur tinggi.  Stress karena temperatur yang tinggi ini akan merangsang kelenjar endokrin yang diatur oleh hipopise akan meningkatkan produksi ACTH dalam aliran darah, sehingga akan menyebabkan peningkatan aktivitas korteks adrenal untuk mengeluarkan hormon terutama gluko-korticoid yang berperan dalam metabolisme vitamin C.  Jadi vitamin C yang banyak dikandung oleh korteks adrenal akan cepat turun jumlahnya bila kelenjar ini dirangsang oleh ACTH karena adanya stress.  Pengaruh penambahan vitamin C ini dalam ransum ayam mampu menghilangkan pengaruh toksik dari kelebihan konsumsi mineral Selenium, Kobalt, Vanadium dan Kadmium.
     NRC (1984) merekomendasikan bahwa penambahan vitamin C dalam pakan ayam adalah perlu bila ayam men-derita stress atau menginginkan produksi yang optimal.  Pada kondisi ayam menderita stress karena suhu lingkungan yang tinggi kebutuhan akan vitamin C di-perlukan untuk memenuhi mekanisme pengaturan homeo-statis yang meningkat.  Selain itu penambahan vitamin C sebanyak 0,5 - 1,0 gram/kg ransum mampu merangsang terjadinya phagocytosis dan pembentukan antibodi, sehingga dapat meningkatkan resistensi ayam terhadap berbagai infeksi bibit penyakit atau respon kekebalan meningkat (Achmadi, 1988).  Dijelaskan juga bahwa pe-nambahan vitamin C tersebut dapat atau mampu meningkat-kan produksi telur sebesar 11 - 13 % dan meningkatkan kualitas telur.
     Tabel berikut menunjukkan penambahan vitamin C untuk ayam sesuai dengan masa atau periodenya yang disarikan dari majalah Ayam dan Telur, edisi Nopember, nomor 11 tahu ke XV, 1984.  Data tersebut berdasarkan kebutuhan vitamin C pada kondisi tidak normal, dimana adanya stress pada saat produksi tinggi.
      Tabel 4.1.  Pemberian Vitamin C pada Ayam Saat
                Mengalami Stress

          Unggas
    mg vit.C/kg ransum
   Petelur dan Pedaging
    
          Starter
           150
          Grower
            60
   Petelur komersial
           200
   Petelur pembibit
           200


Sumber : Ilyas, 1987.


     Ilyas (1987), menyarankan untuk menambahkan vitamin C dalam ransum sebesar 20 - 150 ppm tergantung dari keadaan stressnya.
     Pemberian vitamin C pada pakan ayam biasanya di-berikan dalam bentuk anti stress yang dicampur dalam ransum.  Jadi tidak diberikan dalam bentuk vitamin C murni.  Tabel berikut menunjukkan kandungan vitamin C yang terdapat dalam beberapa anti stress.
     Tabel 4.2.  Kandungan Vitamin C dalam Beberapa
                 Anti Stress
     Anti Stress (per 100 gr)
     Vitamin C (mg)
 Nopstress
       6.000
 New Gallivet
       3.000
 Afsillin Feed
       1.500
 Rhodegg
 2.000 + antibiotika
Sumber : Ilyas, (1987).

     Selanjutnya penelitian yang dilakukan Ichsan (1991) mendapatkan hasil sebagai berikut :  pada ayam tipe pedaging (“broiler”), yang mengalami cekaman atau stress yang diakibatkan oleh suhu lingkungan yang tinggi (330C) akan menyebabkan terjadinya penurunan produksi yang sangat tajam, ditandai dengan menurunnya kecepatan pertumbuhan dan konsumsi pakan serta angka kematian yang meningkat.  Pemberian vitamin C dengan dosis 500 - 1.500 ppm, pada kondisi ini ternyata dapat meningkatkan daya tahan tubuh dibandingan dengan yang tidak diberi vitamin C dalam pakannya. 
     Peningkatan daya tahan tubuh ini sebagai akibat dari perbaikan respon fisiologi, yaitu seperti me-ningkatnya kadar tiroksin plasma darah sampai taraf 500 ppm, meningkatnya kadar hormon kortisol pada umur 7 minggu yang ditunjang dengan meningkatnya kadar vitamin C dalam kelenjar adrenal, menurunnya kadar kholesterol kelenjar adrenal dan menghambat hipertrofi kelenjar adrenal serta meningkatkan bobot bursa fabrisius.
     Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pada kondisi tercekam karena suhu lingkungan yang tinggi, pemberian vitamin C 500 ppm sudah cukup baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh “broiler” ter-hadap cekaman panas dan mengurangi penurunan kecepatan pertumbuhan yang sangat drastis.

BAB V

KESIMPULAN
     Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.  Suhu lingkungan yang tinggi sekali dapat menimbul-
    kan “Heat stress” pada ternak ayam.
2.  “Heat stress” sering mengakibatkan kerugian pada
    usaha pengelolaan peternakan ayam
3.  Penanggulangan keadaan stress akibat suhu lingkung-
    an pada ternak ayam dapat dilakukan dengan dua cara
    yaitu usaha perbaikan kondisi lingkungan peternakan
    dan usaha perbaikan kualitas pakan yang diberikan.
4.  Usaha perbaikan kualitas pakan dengan memberikan
    vitamin C cukup efektif, selain harganya murah,
    mudah didapat juga tidak banyak efek sampingannya.
5.  Vitamin C yang diberikan dalam pakan ayam tidak
    dalam bentuk murni tetapi dalam bentuk anti stress
    seperti Nopstress, New Gallivet, Afsilin Feed
    Fortifier dan Rhodegg.

DAFTAR PUSTAKA
1.  Achmadi, J.  1988.  Vitamin C dalam ransum peranan-
         nya mengatasi stress pada Ayam.  Dalam Majalah
         Ayam dan Telur, No. 30, Tahun XIX, 34-35.

2.  Benerjee, G. C.  1978.  Animal nutrition.  Oxford &
         IBH Publishing Company : Calcuta, Bombay,
         New Delhi.

3.  Ewing, R. W.  1963.  Poultry nutrition.  5th. Ed.
         The Ray Ewing Company Publisher : Pasadena,
         California.

4.  Harper, H. A., V. W. Rodwell, P. A. Mayes.  1984.
         Biokimia, diterjemahkan oleh Martin Muliawan.
         PT. Erlangga : Jakarta.

5.  Ichsan, M.  1991.  Respon broiler terhadap
         suplementasi vitamin C.  Institut Pertanian
         Bogor.  Disertasi yang tidak dipublikasikan.

6.  Ilyas, N. N.  1987.  Vitamin C diperlukan untuk
         ayam.  Dalam Majalah Ayam dan Telur, No.18
         Tahun XVIII, 27-28.

7.  Maynard, L. A. and J. K. Loosli.  1951.  Animal
         nutrition.  3rd Ed. Mc Graw-Hill Book Company
         Inc. : New York.

8.  Mc. Donald, P., R. A. Erwards and J. F. D. Geenhalg
         1972.  Animal nutrition.  2nd Ed.  Longman :
         London.

9.  Moriison, F. B.  1961.  Feeds and feeding.  9th Ed.
         The Morrison Publishing Company : Clinton,
         Iowa.

10. National Research Council.  1984.  Nutrient
         requirements of poultry.  National Academy of        
         Sciences : Washington DC., USA.

11. North, M.O.  1984.  Commercial chicken production
         mannual.  3rd Ed.  The AVI Publishing Company
         Inc. : Westport, Connecticut.

12. Rossenberg, H. R.  1945.  Chemistry and physiology
         at the vitamins.  Interscience Publisher Inc.
         New York.

13.  Scott, M. L., M. C. Nesheim and R. J. Young.  1976
          Vitamins and hormones.  Scott & Associates
          Ithaca : New York.

14.  Shul’ga, V. N.  1980.  Stress action of ascorbic
          acid in hen.  Veterinariya No. 1 : Moscow.

15.  Stadekman, W. Y. and D. Y. Cotterill.  1977.  Egg
          Science and Technology.  2nd Ed.  The AVI
          Publishing Company Inc. : Westport,
          Connecticut.

Follow by Email